Malam terakhir dilombokpun tiba, banyak diantara keluarga yang berdatangan menghampiri rumah tuaku diantara mereka terdengar satu persatu memberikan nasehat untuk menjaga kepercayaan yang sudah keluarga berikan kepadaku untuk pergi menuntut ikmu kesebrang pulau sana (jogja), selain itu juga beberapa sahabat terdekatku datang menghampiriku, sama seperti keluargaku sahabat-sahabatku juga banyak memberikan nasehat untuk bisa menjaga amanah orang tua. Dipertengahan malam aku teringat dengan sahabatku Ari teman seSMPku dulu, entah bisikan dari mana sehingga aku bisa mengingatnya lagi, Ari adalah teman dekatku semasa SMP dulu seperti kata orang kami bagaikan uang logam 500 rupiah yang mempunyai dua sisi yang berbeda satu sisi adalah aku dan sisi lainnya adalah Ari, dimanapun aku temui uang logam 500 rupiah pasti ada kalian berdua. Maksud dari perkataan itu adalah dimanapun saya berada pasti disitu ada seorang ari yang selalu menemani. Ooops tapi jangan berpikir kami Pacaran ! Mungkin salah kalau aku menyebut namanya terlebih dulu tanpa memperkenalkan biodata lengkap dari ari. Berikut biodata ari : Nama : Arianto Mahsun, Jenis Kelamin : Laki-Laki Tulen, Tertarik Pada : Perempuan Tulen, Hobi : Memasak, dan terakhir yang akan aku perkenalkan Cita-Cita : ????????
Tersadar dari ingatanku mengenai cita-cita sahabatku ari, aku membulatkan tekad menjadi orang kuat dan tangguh tidak pernah surut sebelum cita-citaku tercapai. Malam itu ibu menghampiriku dan berkata “ Nak..Bersyukurlah karna tidak semua orang bisa sepertimu bisa melanjutkan sekolah, bersyukurlah nak jadikan ini sebagai batu loncatan untuk bisa mengangkat derajat keluarga kita jangan pernah menyerah terus kejar cita-citamu nak (menangis) ”. Dari perkataan ibu aku tadi aku berjanji didalam hati bahwa aku tidak akan pernah menyia-nyiakan amanah dan kesempatan yang sudah diberikan dengan hati yang tegar aku menyampaikan kepada ibu. “ Bu...Terimakasih karna doa dan usahamu aku bisa menjadi seperti ini. Ijinkan anakmu pergi tuntunlah aku dengan doamu bu, insyaAllah ketika aku berangkat besok pagi aku akan pulang kelak dengan membawa kebanggan kepadamu dan semua keluarga kita (Peluk ibu sambil menangis)”. Begitulah kira-kira kisah dimana sebelum keberangkatanku ke jogja.
Dua hari telah berlalu setelah keberangkatanku dari Lombok, dan tiba waktunya aku diospek hari pertama dan diwajibkan untuk calon mahasiswa baru untuk datang, disana aku menemui orang-orang banyak yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Saat itu instruktur ospek memberikan aba-aba untuk berkumpul sesuai dengan jurusan masing-masing dan disana terlihat banyak orang dengan bahasa yang belum pernah aku dengar sebelumnya, seketika itu seorang instruktur ospek mendatangi kami dan menyuruh duduk untuk mendata siapa saja peserta ospek dari jurusan kami dan setelah itu menyebutnya lagi satu persatu sambil menanyakan asal daerah masing-masing. Bebrapa orang disebut sebelum namaku aku berharap ada salah satu teman dari yang disebut berasal dari daerah yang sama sepertiku, instruktur dengan lancar mengabsen dan memberikan pertanyaan yang sama, dengan suara lantang instruktur ospek menyebut nama yang sudah tidak asing ditelingaku Arianto Mahsun, dengan muka terkejut dan penasaran aku langsung berdiri dan melihat orang dari nama tersebut, terlihat seorang anak memakai kaca mata dengan potongan rambut dan postur tubuh yang tidak asing seketika itu instruktur langsung memberikan pertanyaan “ Instruktur : kamu dari mana ? -> Arianto Mahsun: saya Dari Lombok mbak ! ” seketika itu aku langsung berjalan kedekatnya dan duduk dibelakangnya. Instruktur lanjut absen dan menyebut namaku “ Instruktur: dan yang terakhir Muhamad Iskandar -> aku: ea saya mbak “ seketika itu ak melihat respon yang sama dari Arianto Mahsun tadi dia seakan mencari-cari dari mana jawaban dari pertanyaan instruktur tadi, dengan pertanyaan yang sama dari instruktur “ kamu asalnya dari mana iskandar-> aku: dari lombok sama seperti Ari “ seketika itu ari melihatku dengan muka penasaran dan instruktur berkata kepada ku “ instruktur: iskandar apakah kamu kenal ari” dan pertanyaan yang sama juga diberikan kepada Ari, Dengan Suara lantang aku dan Ari menjawab dengan waktu yang sama “Ea Kenal”. Selepas dari pendataan dan absensi dari intruktur aku langsung menghampiri ari dan disebelah tempat duduknya ada sebuah tongkat putih, aku menyapanya menggunakan bahasa asli Lombok dengan nada lembut dan kaku yang artinya “ aku: kamu ari ? -> ari: ea ari ! -> aku: kamu masih mengingatku ? -> ari: masih lah ndar ( panggilan akrabnya sewaktu di SMP ) ”, ari mengambil tongkat dan mencoba berdiri sambil aku bantu membenarkan posisi tongkatnya, “ aku: Kamu kenapa Ri (panggilan akrabku kepadanya sewaktu SMP) -> Ari: nanti aku ceritain di kos, kamu anterin aku ke kost ea kostku disebelah kanan gedung ini -> aku: oh...ea ri dengan senang hati, sepeda ato motormu dimana ? -> Ari: aku tidak punya sepeda dan Gak Bawa Motor kesini ndar ” lara hati mendengar sahabatku yang selama kurang lebih 3,5 tahun tidak pernah bertemu karna pindah sekolah ke solo untuk ikut ayahnya yang ditugaskan mengajar disalah satu sekolah. Sesampainya di kost ari langsung bercerita mengenai kenapa ari bisa seperti sekarang. “ Aku: Ri...kakimu kenapa (Bergelinang Air Mata) -> Ari: maaf ndar aku gak pernah memberikan kabar kepadamu semenjak aku pindah ke solo, begini ndar, kemarin ketika aku pulang Program ESQ (Program Terakhir sesudah masuk PTN) aku dapet musibah, mobil angkot yang aku pake pulang mudik kesolo tabrakan dengan truk dan terperosok ke jurang ak dan para penumpang lain terpental sampai masuk ke jurang, dibawah jurang aku sempat mengingat ibu dan bapakku yang sedang menungguku pulang aku berjanji aku harus pulang dengan selamat dan seketika itupula suara orang berdatangan untuk menolog kami dan dengan tubuh penuh luka aku meminta tolong kepada orang-orang akan tetapi proses efakuasi sangatlah lama dikarenakan banyak penumpang yang terjepit akibat body mobil dan salah satunya kaki saya yang terjepit, dari situ aku dan semua penumpang dilarikan kerumah sakit terdekat untuk menerima penanganan dan selang beberapa jam setelah kejadian ibu dan bapak datang menghampiriku seakan tak percaya kalau anaknya yang menjadi korban. Suara jeritan tangis terdengar setela ibu melihatku diranjang rumah sakit, setelah itu dokter mendatangi kami dan memberikan hasil dari pemeriksaan, dokter memberikan pernyataan bahwa kaki saya akan cacat permanen seketika itu pula ibu langsung pingsan dan dalam hati saya berkata “Ya Allah jika memang ini yang terbaik maka tabahkanlah aku dan keluargaku”, sesiumannya ibu dari pingsan ibu berkata “Ibu Ari: yang sabar ea (menangis) --> Ari: ea buk aku ikhlas bu, ini adalah takdir yang sudah diberikan tuhan kepadaku” seketika itu ibu mengis sambil memelukku dan berkata aku sayang kamu nak, tetaplah tegar walaupun takdir berkata lain -> aku: sabar ea ri (memeluk ari sambil menangis)”.
Persahabatan Uang Logam 500 Rupiah


This comment has been removed by the author.
ReplyDelete